Bagaimana Papua Tengah Atasi Tantangan Kesehatan di Wilayah Terpencil? Ini Langkah Terbarunya
# Perkuat Layanan Kesehatan hingga Pelosok, Papua Tengah Latih 40 Tenaga Kesehatan melalui Program ILP
**NABIRE, Papua Tengah** — Pemerataan pelayanan kesehatan hingga ke wilayah terpencil masih menjadi tantangan bagi Papua Tengah. Kondisi geografis yang sulit, keterbatasan transportasi, serta belum meratanya tenaga dan fasilitas kesehatan menjadi sejumlah kendala yang perlu diatasi agar masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang layak.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Kesehatan terus mendorong penerapan **Integrasi Layanan Primer (ILP)**, sebuah pendekatan yang dirancang untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih terpadu, berkesinambungan, dan sesuai kebutuhan masyarakat di setiap kelompok usia.
Sekretaris Dinas Kesehatan Papua Tengah, Obeth Tekege, mengatakan di Nabire, Senin, bahwa ILP merupakan bagian dari transformasi sistem kesehatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat.
“Pendekatan ILP mencakup pelayanan kesehatan sejak ibu hamil, bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, orang dewasa hingga lanjut usia,” ujarnya.
Melalui pendekatan ini, pelayanan kesehatan diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan ketika masyarakat sakit, tetapi juga semakin terarah dalam mendukung pemantauan kesehatan dan kebutuhan pelayanan berdasarkan kelompok usia.
**### Perkuat Koordinasi hingga Wilayah Terpencil**
Penerapan ILP di Papua Tengah membutuhkan kerja sama berbagai unsur pelayanan kesehatan. Puskesmas, puskesmas pembantu (pustu), posyandu, tenaga kesehatan, hingga kader diharapkan dapat memperkuat koordinasi agar pelayanan kepada masyarakat berjalan lebih efektif dan saling terhubung.
Langkah tersebut dinilai penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan akses transportasi terbatas. Dengan koordinasi yang lebih baik, pelayanan kesehatan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak warga dan memenuhi kebutuhan mereka secara berkesinambungan.
Untuk mendukung upaya itu, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah menggelar **Workshop Integrasi Layanan Primer (ILP) Batch IV** pada 19–28 Oktober 2026 di Nabire. Kegiatan tersebut diikuti 40 tenaga kesehatan.
Ketua panitia, Sutira Kobogau, mengatakan workshop ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta sekaligus menyamakan pemahaman mengenai penerapan ILP di wilayah kerja masing-masing.
Melalui pelatihan tersebut, para peserta diharapkan mampu memahami mekanisme pelaksanaan ILP serta menyusun langkah tindak lanjut yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan dan kondisi pelayanan kesehatan di daerah tugas mereka.
**### Pelatihan Diharapkan Berdampak pada Pelayanan Masyarakat**
Workshop ini menghadirkan narasumber dan widyaiswara dari Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Kementerian Kesehatan RI Makassar. Kegiatan tersebut juga dihadiri Kepala Bidang Sumber Daya Manusia Kesehatan Dinas Kesehatan Papua Tengah, Kristianus Tebai.
Dinas Kesehatan Papua Tengah berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dalam pelayanan sehari-hari. Dengan demikian, koordinasi antarunit pelayanan semakin kuat dan masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan yang lebih berkualitas.
Keberhasilan penerapan ILP nantinya tidak hanya ditentukan oleh pelatihan, tetapi juga oleh tindak lanjut di lapangan, koordinasi antarpelaksana, serta kemampuan layanan kesehatan menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Papua Tengah.
**PapuaTengahTerang.com** — Menyajikan informasi Papua Tengah secara aktual, berimbang, dan terpercaya.
**Baca berita lainnya di www.papuatengahterang.com**